MAKALAH
Metodik Khusus Pai
“ Akhlaq “
Dosen pembimbing : Erda Heryanti, S.Ag., M.PdI
Disusun oleh :
ELIS MIARTI
Nim : T. PAI. 1. 2012. 037
Lokal IV A
Jurusan Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH MAULANA QORI BANGKO
TAHUN 2014
KATA PENGANTAR
Alhamduliilahirobbil’alamin, penulis
memuji syukur kehadirat Allah SWT karena sampai detik ini Allah SWT masih
bermurah hati memberikan segala karunia-Nya sehangga penulis dapat
menyelesaikan makalah “Akhlaq” yang
disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodik Khusus Pai.
Salam sejahtera semoga tetap
tercurahkan pada nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan Lil’alamin. Semoga kelak
kita menjadi salah satu umatnya yang mendapatkan syafa’at dari beliau. Amin, Ya
Robbal’alamin.
Pada kesempatan kali ini penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan
bantuan baik dari segi moril maupun materil dan yang secara langsung maupun
tidak langsung Sebagai hamba Allah Swt, penulis yakin bahwa makalah ini jauh dari
sempurna. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi memperoleh hasil yang lebih baik
dikesempatan mendatang.
Bangko, 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Akhlak
merupakan fungsionalisasi agama. Artinya keberagamaan menjadi tidak berarti
bila tidak dibuktikan dengan berakhlak. Segala sesuatu itu dinilai baik atau
buruknya, terpuji atau tercela, semata-mata karena syara’ (al-Qur’an dan
Sunnah) hati nurani atau fitrah dalam bahasa al Qur’an memang dapat menjadi
ukuran baik dan buruk karena manusia di ciptakan oleh Allah Swt memiliki fitrah
bertauhid, mengakui keesaannya (QS. Ar-Rum: 30-30). Hati nurani manusia selalu
mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Allah Swt.
Namun fitrah
manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari
luar misalnya pengaruh pendidikan, lingkungan, pakaian dan juga pergaulan.
Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal fikiran sudah di kotori
oleh sikap dan perilaku yang tidak terpuji. Namun bukan Cuma perilaku yang
harus diperbaiki asupan dalam tubuhpun harus dijaga agar tetap halal. Karena
itulah diperlukan adanya suatu jaminan dan kepastian akan kehalalan produk pangan
yang dikonsumsi umat Islam.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
Pengertian Akhlaq ?
2.
Apa
saja Ruang Lingkup Akhlaq ?
3.
Jelaskan
Akhlaq Terhadap Allah SWT ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Akhlaq
Kata Akhlak bentuk dari kata jamak yaitu khuluq, yang artinya tingkah laku,perangai,
dan tabiat. Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah daya kekutan jiwa yang
mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan direnungkan
lagi. Dengan demikian akhlak pada dasarnya melekat pada seseorang secara
spontan diwujudkan dalam tingkah laku baik (akhlakul karimah), maupun tingkah
laku buruk (akhlakul mazmumah). Baik dan buruknya akhlak itu didasarkan pada
sumbernya yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasul.[1]
Akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu
keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.[2]
Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi harus dilakukan
secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau
hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak, jika timbul
dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa
banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering di ulang-ulang
sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apalagi perbuatan
tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencermian dari akhlak.[3]
Akhlaq adalah hal ihwal yang melekat dalam jiwa, daripadanya timbul
perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa dipikirkan dan diteliti oleh manusia.
Apabila Hal ihwal atau tingkah laku itu menimbulkan perbuatan-perbuatan yang
baik lagi terpuji oleh akal dan syara’, maka tingkah laku itu dinamakan akhlaq
yang baik,. Sebaliknya, bila perbuatan-perbuatan yang buruk maka tingkah laku
itu dinamakan akhlaq yang buruk.[4]
Ibnu
Maskawaih memberikan definisi akhlaq adalah keaadan jiwa seseorang yang
mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran
terlebih dahulu.
Sedangkan
Menurut Imam AL-Ghazali definisi Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam
dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan
tidak memerlukan pertimbangan pikiran ( terlebih dahulu ).
Sekalipun
Definisi Akhlaq diatas berbeda kata-katanya, tetapi sebenarnya tidak berjauhan
maksudtnya, bahkan berdekatan artinya satu dengan yang lain. Sehingga Prof. KH.
Farid Ma’ruf membuat kesimpulan tentang definisi Akhlaq ini sebagai berikut : “Akhlaq ialah kehendak jiwa manusia yang
menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan
pertimbangan pikiran terlebih dahulu”[5].
B.
Ruang
Lingkup Akhlaq
Ruang Lingkup Akhlak Mencakup tentang hubungan terhadap sesama
manusia, juga hubungan hamba terhadap Allah.
1.
Akhlak pribadi
Yang paling dekat
dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu
menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar
kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang
tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah
mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan
dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
2.
Akhlak berkeluarga
Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewajiban
orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik
untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang
bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai
tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu
untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih
sayang.
Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri
sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan
kemuliaan.
Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih
berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.
Karena keduanya memelihara, mengasuh,
dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi
seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat.
Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan perempuan adalah putera
ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong dan ayah ibumu dalam
mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana
perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar
engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan
menolong keduanya disetiap keperluan.
3.
Akhlak bermasyarakat
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika
orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan
menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib
atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga. Pendidikan
kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan,
kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat.
Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan
perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri
dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu,
saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut
masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika
tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan
yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.
4.
Akhlak bernegara
Mereka yang sebangsa
denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan
berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib
dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang
dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.
5.
Akhlak beragama
Akhlak ini merupakan
akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup
akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal
dengan Tuhan ( Adab Mukmin Dihadapan allah ), maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.[6]
C.
Akhlaq
Terhadap Allah SWT
Akhlak kepada Allah dapat
diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia
sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara
memuji-Nya, yakni menjadikan Tuhan sebagai satu- satunya yang menguasai
dirinya. Oleh sebab itu, manusia sebagai hamba Allah mempunyai cara-cara yang
tepat untuk mendekatkan diri.
Menurut pendapat Quraish Shihab bahwa titik tolak akhlak kepada Allah
adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki
sifat-sifat terpuji, demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun
tidak akan mampu menjangkaunya.
Seorang yang berakhlak luhur adalah seorang yang mampu berakhlak baik
terhadap Allah ta’ala dan sesamanya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
Keluhuran akhlak itu terbagi dua.
1.
Akhlak yang baik
kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan mesti
(mengandung kekurangan/ketidaksempurnaan) sehingga membutuhkan udzur (dari-Nya)
dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya harus disyukuri. Dengan demikian, anda
senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta maaf kepada-Nya serta berjalan
kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda.
2.
Akhlak yang baik
terhadap sesama. kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan
tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan.[7]
·
Macam-macam akhlak kepada Allah SWT
1.
Taat Terhadap Perintah-Nya
Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim
dalam beretika kepada Allah SWT, adalah dengan mentaati segala
perintah-perintah –Nya., padahal Allah SWT –lah yang telah memberikan
segala-galanya pada dirinya. Allah SWT berfirman dala Al-Qur’an surat An-Nisa
ayat 65 :
فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ
لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya : “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.
Kendati demikian, taat keada Allah SWT
merupakan konsekwensi keimanan seorang muslim kepada Allah SWT. Tanpa adanya
ketaatan, maka ini merupakan salah satu indikasi tidak adanya keimanan.
2.
Tawakal
Tawakal bukan berarti meninggalkan kerja dan
usaha, dalam surat Al-Mulk ayat 15 di jelaskan, bahwa manusia di syariatkan
berjalan di muka bumi utuk mecari rizki dengan berdagang, bertani dan lain
sebagainya.
Sahl At-Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah melncela sunatullah (ketetentuan yang Allah SWT ciptakan). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah SWT) maka dia telah meninggalkan keimanan”.
Sahl At-Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah melncela sunatullah (ketetentuan yang Allah SWT ciptakan). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah SWT) maka dia telah meninggalkan keimanan”.
3.
Memiliki Rasa Tanggung Jawab Atas
Amanah Yang Di Embankan Padanya
Memiliki rasa tanggung jawab terhadap amanah
yang diberikan padanya. Karena pada hakekatnya, kehidupan ini-pun merupakan
amanah dari Allah SWT. Oleh karenanya, seorang mukmin senantiasa meyakini
apapun yang Allah SWT berikan padanya, maka itu meruakan amanah yang kelak akan
diminta pertanggung jawaban dari Allah SWT.
4.
Ridlo terhadap ketentuan Allah SWT
Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang
muslim terhadap Allah SWT, adala ridla terhadap segala ketentuan yang telah
Allah SWT berikan pada dirinya. Seperti ketika ia dilahirkan baik oleh keluarga
yang berada maupun keluarga yang kurang mampu, bentuk fisik yang Allah SWT
berikan padanya, atau hal-hal lainnya. Karena pada hakekatnya, sikap seorang
muslim senantiasa yakin terhadap apaun yang Allah SWT berikan padanya.
Baik yang berupa kebaikan, atau berupa
keburukan. Apalagi terkadangsebagai seorang manusia, pengetahuan atau pendangan
kita terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita
anggap baik, justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata
malah memiliki nilai kebaikan bagi diri kita.
5.
Senantiasa Bertaubat Kepada-Nya
Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak
akan pernah luput dari sifat lalai dan lupa. Karena hal ini merupakan sifat dan
tabiat manusia. Oleh karena itulah, etika kita kepada Allah SWT manakala kita
sedang terjerumus kedalam “kelupaan” sehingga berbuat kemaksiatan kepada –Nya
adalah dengan segera bertaubat kepada Allah SWT.
6.
Obsesinya Adalah Keridloan Illahi
Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah
SWT, akan memiliki obsesi dan orientasi dalam segala aktifitasnya, hanya kepada
Allah SWT. Dia tidak beramal dan beraktifitas untuk mencari keridloan atau
pujian atau apapun dari manusia. Bahkan terkadang, untuk mencapai keridloan
Allah SWT tersebut, “terpaksa” harus mendapatkan “ketidaksukaan” dari para
manusia lainnya. Dan hal seperti ini sekaligus merupakan bukti keimanan yang
terdapat dalam dirinya. Karena orang yang tidak memiliki kesungguhan iman,
otientasi yang dicarinya tentulah hanya keridloan manusia. Ia tidak akan
peduli, apakah Allah menyukai tindakannya atau tidak. Yang penting ia dipuji
oleh orang lain.
7.
Merealisasikan ibadah kepada Allah
SWT.
Baik ibadah yang bersifat mahdloh, ataupun
ibadah yang ghairu mahdloh. Karena, pada hakekatnya seluruh aktivitas
sehari-hari adalah ibadah kepada Allah SWT. Oleh karenanya, sebagai aktivitas,
gerak gerik, kehidupan sosial dan lain sebagainya merupakan ibadah yang
dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT. Sehingga ibadah tidak hanya yang
memiliki sikap mahdloh saja, seperti puasa, shalat, haji dan lain sebagainya.
Perealisasian ibadah yang paling penting untuk dilakukan pada saat ini adalah
beraktifitas dalam rangkaian tujuan untuk dapat menerakpak hukum Allah SWT di
muka bumi ini.
Sehingga islam menjadi pedoman hidup yang
direalisasikan oleh masyarakat islam pada khhususnya dan juga oleh masyarakat
dunia pada umumnya.
8.
Banyak Membaca AL-Qur’an
Etika dan akhlak berikutnya yang harus
dilakukan oleh seorang muslim terhadap Allah SWT adalah dengan memperbanyak
membaca dan mentadaburi ayat-ayat, yang merupakan firman-firman –Nya.
Seseorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia
akan banyak dan sering menyebutnya. Demikian juga dengan mukmin yang mecintai
Allah SWT, tentulah ia akan selalu menyebut-nyebut asma –Nya dan juga
senantiasa akan membaca firman-firman –Nya. Apalagi manakala kita mengetahui
keutamaan membaca Al-Qur’an yang demikian besarnya. Adapun bagi mereka yang belum bisa atau belum
lancar dalam membacanya, maka hendaknya ia senantiasa mempelajarinya hingga
dapat membacanya dengan baik. Kalaupun seseorang harus terbata-bata dalam
membaca Al-Qur’an tersebut, maka Allah SWT –pun akan memberikan pahala dua kali
lipat bagi dirinya. [8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Akhlaq ialah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan
dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih
dahulu.
Adapun Ruang Lingkup Akhlaq adalah :
1. Akhlak Pribadi
2. Akhlak Berkeluarga
3. Akhlak Bermasyarakat
4. Akhlak Bernegara
5. Akhlak Beragama
Akhlaq terhadap Allah adalah sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan
oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara
memuji-Nya, yakni menjadikan Tuhan sebagai satu- satunya yang menguasai dirinya.
Macam akhlaq terhadap Allah antara lain :
1.
Taat Terhadap Perintah-Nya
2.
Tawakal
3.
Memiliki Rasa Tanggung Jawab Atas
Amanah Yang Di Embankan Padanya
4.
Ridlo terhadap ketentuan Allah SWT
5.
Senantiasa Bertaubat Kepada-Nya
6.
Obsesinya Adalah Keridloan Illahi
7.
Merealisasikan ibadah kepada Allah
SWT.
8.
Banyak Membaca AL-Qur’an.
B.
Kritik dan Saran
Demikian yang
dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah
ini , tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karna terbatasnya
Pengetahuan dan kurangnya rujukan dan referensi , penulis berharap kapada para
pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
·
Ahmad A.K. Muda. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
Jakarta: Reality Publisher.
·
Prof.
Dr. H. Zainuddin Ali, M.A, Pendidikan
Agama Islam, Jakarta: Bumi aksara, 2008
·
Drs.
H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung : Pustaka setia, 1997
·
http://ozyi.blogspot.com/2013/09/makalah-tentang-akhlak.html
·
http://diahwulaningsih123.wordpress.com/2011/11/25/akhlak-seorang-muslim-terhadap-allah-swt/
·
http://senyumkudakwahku.blogspot.com/2013/12/memahami-ruang-lingkup-akhlak.html
[1]
http://ozyi.blogspot.com/2013/09/makalah-tentang-akhlak.html
[2] Ahmad A.K. Muda. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
Jakarta: Reality Publisher. Hal 45-50
[3]
http://elsakemala88.blogspot.com/2013/09/contoh-makalah-tentang-akhlak.html
[5] Drs. H. A.
Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung : Pustaka setia, 1997. Hal 12
[6]
http://senyumkudakwahku.blogspot.com/2013/12/memahami-ruang-lingkup-akhlak.html
[8]
http://miftassyumaisah.wordpress.com/akhlak-2/akhlak-kepada-allah-swt-dan-nabi-saw/