Rabu, 21 Januari 2015

MAKALAH Metodik Khusus PAI, Pengertian, Ruang Lingkup Akhlaq



MAKALAH

Metodik Khusus Pai
Akhlaq “

Dosen pembimbing : Erda Heryanti, S.Ag., M.PdI


 Disusun oleh :
ELIS MIARTI
Nim : T. PAI. 1. 2012. 037


Lokal IV A
Jurusan Tarbiyah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH MAULANA QORI BANGKO
TAHUN 2014


KATA PENGANTAR
Alhamduliilahirobbil’alamin, penulis memuji syukur kehadirat Allah SWT karena sampai detik ini Allah SWT masih bermurah hati memberikan segala karunia-Nya sehangga penulis dapat menyelesaikan makalah  “Akhlaq” yang disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodik Khusus Pai.
Salam sejahtera semoga tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan Lil’alamin. Semoga kelak kita menjadi salah satu umatnya yang mendapatkan syafa’at dari beliau. Amin, Ya Robbal’alamin.
Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan baik dari segi moril maupun materil dan yang secara langsung maupun tidak langsung Sebagai hamba Allah Swt, penulis yakin bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi memperoleh hasil yang lebih baik dikesempatan mendatang.


Bangko,    2014

                                                                                                                             Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Akhlak merupakan fungsionalisasi agama. Artinya keberagamaan menjadi tidak berarti bila tidak dibuktikan dengan berakhlak. Segala sesuatu itu dinilai baik atau buruknya, terpuji atau tercela, semata-mata karena syara’ (al-Qur’an dan Sunnah) hati nurani atau fitrah dalam bahasa al Qur’an memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia di ciptakan oleh Allah Swt memiliki fitrah bertauhid, mengakui keesaannya (QS. Ar-Rum: 30-30). Hati nurani manusia selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Allah Swt.
Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar misalnya pengaruh pendidikan, lingkungan, pakaian dan juga pergaulan. Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal fikiran sudah di kotori oleh sikap dan perilaku yang tidak terpuji. Namun bukan Cuma perilaku yang harus diperbaiki asupan dalam tubuhpun harus dijaga agar tetap halal. Karena itulah diperlukan adanya suatu jaminan dan kepastian akan kehalalan produk pangan yang dikonsumsi umat Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Akhlaq ?
2.      Apa saja Ruang Lingkup Akhlaq ?
3.      Jelaskan Akhlaq Terhadap Allah SWT ?



BAB II
PEMBAHASAN

 A.  Pengertian Akhlaq
Kata Akhlak bentuk dari kata jamak yaitu khuluq, yang artinya tingkah laku,perangai, dan tabiat. Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah daya kekutan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan direnungkan lagi. Dengan demikian akhlak pada dasarnya melekat pada seseorang secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku baik (akhlakul karimah), maupun tingkah laku buruk (akhlakul mazmumah). Baik dan buruknya akhlak itu didasarkan pada sumbernya yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasul.[1]
Akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.[2]
Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak, jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering di ulang-ulang sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apalagi perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencermian dari akhlak.[3]
Akhlaq adalah hal ihwal yang melekat dalam jiwa, daripadanya timbul perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa dipikirkan dan diteliti oleh manusia. Apabila Hal ihwal atau tingkah laku itu menimbulkan perbuatan-perbuatan yang baik lagi terpuji oleh akal dan syara’, maka tingkah laku itu dinamakan akhlaq yang baik,. Sebaliknya, bila perbuatan-perbuatan yang buruk maka tingkah laku itu dinamakan akhlaq yang buruk.[4]
Ibnu Maskawaih memberikan definisi akhlaq adalah keaadan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Sedangkan Menurut Imam AL-Ghazali definisi Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran ( terlebih dahulu ).
Sekalipun Definisi Akhlaq diatas berbeda kata-katanya, tetapi sebenarnya tidak berjauhan maksudtnya, bahkan berdekatan artinya satu dengan yang lain. Sehingga Prof. KH. Farid Ma’ruf membuat kesimpulan tentang definisi Akhlaq ini sebagai berikut :  “Akhlaq ialah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu”[5].

B.     Ruang Lingkup Akhlaq
Ruang Lingkup Akhlak Mencakup tentang hubungan terhadap sesama manusia, juga hubungan hamba terhadap Allah.
1.      Akhlak pribadi
Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
2.      Akhlak berkeluarga
Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang.
Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.
Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.
Karena keduanya memelihara,  mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat.
Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan perempuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong dan ayah ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.
    
3.      Akhlak bermasyarakat
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga. Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat.
Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.

4.      Akhlak bernegara
Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.

5.      Akhlak beragama
Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan ( Adab Mukmin Dihadapan allah ), maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.[6]

C.    Akhlaq Terhadap Allah SWT
       Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara memuji-Nya, yakni menjadikan Tuhan sebagai satu- satunya yang menguasai dirinya. Oleh sebab itu, manusia sebagai hamba Allah mempunyai cara-cara yang tepat untuk mendekatkan diri.
Menurut pendapat Quraish Shihab bahwa titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya.
Seorang yang berakhlak luhur adalah seorang yang mampu berakhlak baik terhadap Allah ta’ala dan sesamanya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Keluhuran akhlak itu terbagi dua.
1.      Akhlak yang baik kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan mesti (mengandung kekurangan/ketidaksempurnaan) sehingga membutuhkan udzur (dari-Nya) dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya harus disyukuri. Dengan demikian, anda senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta maaf kepada-Nya serta berjalan kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda.
2.      Akhlak yang baik terhadap sesama. kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan.[7]
·        Macam-macam akhlak kepada Allah SWT

1.      Taat Terhadap Perintah-Nya
Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada Allah SWT, adalah dengan mentaati segala perintah-perintah –Nya., padahal Allah SWT –lah yang telah memberikan segala-galanya pada dirinya. Allah SWT berfirman dala Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 65 :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya : “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.
Kendati demikian, taat keada Allah SWT merupakan konsekwensi keimanan seorang muslim kepada Allah SWT. Tanpa adanya ketaatan, maka ini merupakan salah satu indikasi tidak adanya keimanan.
2.      Tawakal
Tawakal bukan berarti meninggalkan kerja dan usaha, dalam surat Al-Mulk ayat 15 di jelaskan, bahwa manusia di syariatkan berjalan di muka bumi utuk mecari rizki dengan berdagang, bertani dan lain sebagainya.
Sahl At-Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah melncela sunatullah (ketetentuan yang Allah SWT ciptakan). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah SWT) maka dia telah meninggalkan keimanan”.
3.      Memiliki Rasa Tanggung Jawab Atas Amanah Yang Di Embankan Padanya
Memiliki rasa tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan padanya. Karena pada hakekatnya, kehidupan ini-pun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh karenanya, seorang mukmin senantiasa meyakini apapun yang Allah SWT berikan padanya, maka itu meruakan amanah yang kelak akan diminta pertanggung jawaban dari Allah SWT.
4.      Ridlo terhadap ketentuan Allah SWT
Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT, adala ridla terhadap segala ketentuan yang telah Allah SWT berikan pada dirinya. Seperti ketika ia dilahirkan baik oleh keluarga yang berada maupun keluarga yang kurang mampu, bentuk fisik yang Allah SWT berikan padanya, atau hal-hal lainnya. Karena pada hakekatnya, sikap seorang muslim senantiasa yakin terhadap apaun yang Allah SWT berikan padanya.
Baik yang berupa kebaikan, atau berupa keburukan. Apalagi terkadangsebagai seorang manusia, pengetahuan atau pendangan kita terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap baik, justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah memiliki nilai kebaikan bagi diri kita.
5.      Senantiasa Bertaubat Kepada-Nya
Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari sifat lalai dan lupa. Karena hal ini merupakan sifat dan tabiat manusia. Oleh karena itulah, etika kita kepada Allah SWT manakala kita sedang terjerumus kedalam “kelupaan” sehingga berbuat kemaksiatan kepada –Nya adalah dengan segera bertaubat kepada Allah SWT.
6.      Obsesinya Adalah Keridloan Illahi
Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, akan memiliki obsesi dan orientasi dalam segala aktifitasnya, hanya kepada Allah SWT. Dia tidak beramal dan beraktifitas untuk mencari keridloan atau pujian atau apapun dari manusia. Bahkan terkadang, untuk mencapai keridloan Allah SWT tersebut, “terpaksa” harus mendapatkan “ketidaksukaan” dari para manusia lainnya. Dan hal seperti ini sekaligus merupakan bukti keimanan yang terdapat dalam dirinya. Karena orang yang tidak memiliki kesungguhan iman, otientasi yang dicarinya tentulah hanya keridloan manusia. Ia tidak akan peduli, apakah Allah menyukai tindakannya atau tidak. Yang penting ia dipuji oleh orang lain.
7.      Merealisasikan ibadah kepada Allah SWT.
Baik ibadah yang bersifat mahdloh, ataupun ibadah yang ghairu mahdloh. Karena, pada hakekatnya seluruh aktivitas sehari-hari adalah ibadah kepada Allah SWT. Oleh karenanya, sebagai aktivitas, gerak gerik, kehidupan sosial dan lain sebagainya merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT. Sehingga ibadah tidak hanya yang memiliki sikap mahdloh saja, seperti puasa, shalat, haji dan lain sebagainya. Perealisasian ibadah yang paling penting untuk dilakukan pada saat ini adalah beraktifitas dalam rangkaian tujuan untuk dapat menerakpak hukum Allah SWT di muka bumi ini.
Sehingga islam menjadi pedoman hidup yang direalisasikan oleh masyarakat islam pada khhususnya dan juga oleh masyarakat dunia pada umumnya.
8.      Banyak Membaca AL-Qur’an
Etika dan akhlak berikutnya yang harus dilakukan oleh seorang muslim terhadap Allah SWT adalah dengan memperbanyak membaca dan mentadaburi ayat-ayat, yang merupakan firman-firman –Nya.
Seseorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia akan banyak dan sering menyebutnya. Demikian juga dengan mukmin yang mecintai Allah SWT, tentulah ia akan selalu menyebut-nyebut asma –Nya dan juga senantiasa akan membaca firman-firman –Nya. Apalagi manakala kita mengetahui keutamaan membaca Al-Qur’an yang demikian besarnya.  Adapun bagi mereka yang belum bisa atau belum lancar dalam membacanya, maka hendaknya ia senantiasa mempelajarinya hingga dapat membacanya dengan baik. Kalaupun seseorang harus terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an tersebut, maka Allah SWT –pun akan memberikan pahala dua kali lipat bagi dirinya. [8]

BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Akhlaq ialah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
                  Adapun Ruang Lingkup Akhlaq adalah :
1.      Akhlak Pribadi
2.      Akhlak Berkeluarga
3.      Akhlak Bermasyarakat
4.      Akhlak Bernegara
5.      Akhlak Beragama
Akhlaq terhadap Allah adalah sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara memuji-Nya, yakni menjadikan Tuhan sebagai satu- satunya yang menguasai dirinya.
Macam akhlaq terhadap Allah antara lain :
1.      Taat Terhadap Perintah-Nya
2.      Tawakal
3.      Memiliki Rasa Tanggung Jawab Atas Amanah Yang Di Embankan Padanya
4.      Ridlo terhadap ketentuan Allah SWT
5.      Senantiasa Bertaubat Kepada-Nya
6.      Obsesinya Adalah Keridloan Illahi
7.      Merealisasikan ibadah kepada Allah SWT.
8.      Banyak Membaca AL-Qur’an.

B.       Kritik dan Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini , tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karna terbatasnya Pengetahuan dan kurangnya rujukan dan referensi , penulis berharap kapada para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
·        Ahmad A.K. Muda. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Reality Publisher.
·        Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, M.A,  Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Bumi aksara, 2008
·        Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung : Pustaka setia, 1997
·        http://ozyi.blogspot.com/2013/09/makalah-tentang-akhlak.html
·        http://diahwulaningsih123.wordpress.com/2011/11/25/akhlak-seorang-muslim-terhadap-allah-swt/
·        http://senyumkudakwahku.blogspot.com/2013/12/memahami-ruang-lingkup-akhlak.html


[1] http://ozyi.blogspot.com/2013/09/makalah-tentang-akhlak.html
[2] Ahmad A.K. Muda. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Reality Publisher. Hal 45-50
[3] http://elsakemala88.blogspot.com/2013/09/contoh-makalah-tentang-akhlak.html
[4] Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, M.A,  Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Bumi aksara , 2008. hal 29
[5] Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung : Pustaka setia, 1997. Hal 12
[6] http://senyumkudakwahku.blogspot.com/2013/12/memahami-ruang-lingkup-akhlak.html
[7] http://diahwulaningsih123.wordpress.com/2011/11/25/akhlak-seorang-muslim-terhadap-allah-swt/
[8] http://miftassyumaisah.wordpress.com/akhlak-2/akhlak-kepada-allah-swt-dan-nabi-saw/