FILSAFAT Pendidikan IDEALISME & MATERIALISME
MAKALAH
YAYASAN
PENDIDIKAN ISLAM SYEKH MAULANA QORI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH
MAULANA QORI BANGKO
JURUSAN
TARBIYAH
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Filsafat
pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka salam membahas filsafat
pendidikan akamn berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada
dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari
filsafat,
yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan,
dan nilai.
Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme.
Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme.
Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran seseorang atau beberapa ahli
filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah
terdapat perbedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan
kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama.
Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh faktor-faktor lain seperti latar
belakang pribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran
manusia di suatu tempat. Ajaran filsafat yang berbeda-beda tersebut, oleh para
peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga
menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran
filsafat. Aliran-aliran tersebut antara lain adalah aliran materialisme, yang
mengajarkan bahwa hakikat realitas kesemestaan termasuk makhluk hidup dan
manusia ialah materi. Aliran idealisme/ spritualisme, yang mengajarkan bahwa
ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Jelaskan
Aliran Filsafat Pendidikan Idealisme ?
2.
Jelaskan
Aliran Filsafat Pendidikan Materialisme ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Aliran
Filsafat Pendidikan Idealisme
Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang
berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide. Idealisme diambil dari kata ide
yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Idealisme dapat diartikan sebagai
suatu paham atau aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat
dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Menurut paham ini, objek-objek
fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit.
Ada pendapat lain yang mengatakan, idealisme berasal dari
bahasa latin idea, yaitu gagasan, atau ide. Sesuai asal katanya menekankan gagasan, ide, isi pikiran,
dan buah mental.
Semua bentuk
realita adalah manifestasi alam ide. Karena pandangannya yang idealis itulah
idealisme sering disebut sebagai lawan dari aliran realisme. Tetapi, aliran ini
justru muncul atas feed back realisme yang menganggap realitas sebagai
kebenaran tertinggi.
Ada dua penganut idealis abad XX yang telah
berjuang menerapkan idealisme dalam bidang pendidikan Tokoh-tokohnya antara
lain: Rene Descartes (1596-1650), George Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant
(1724-1804) dan George W. F. Hegel (1770-1831). Seorang idealis dalam pemikiran
pendidikan yang paling berpengaruh di Amerika adalah William T. Harris
(1835-1909) yang menggagas Journal of Speculative Philosophy. [1]
Aliran
ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran
manusia. Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang
murni dari Plato. Yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang
merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini
hanya berupa bayangan saja dari alam idea.
Idealisme merupakan
sistem filsafat yang telah dikembangkan oleh para filsuf di Barat maupun di
Timur. Di Timur, idealisme berasal dari India Kuno, dan di Barat idealisme
berasal dari Plato, yaitu filsuf Yunani yang hidup pada tahun 427-347 sebelum
Masehi. Dalam pengertian filsafati, idealisme
adalah sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran (mind),
roh (soul) atau jiwa (spirit) dari pada hal-hal yang bersifat
kebendaan atau material.
Filsafat idealisme
secara umum disebut sebagai filsafat abad 19. namun sebenarnya konsep-konsep
idealisme sudah ada sejak abad 4 masehi, yaitu dalam ajaran Plato. Plato
memercayai bahwa segala sesuatu yang dapat diinderai adalah kenampakan semata.
Realitas yang sesungguhnya adalah ide-ide, atau bentuk-bentuk asal dari
kenampakan itu. Ide-ide itu merupakan dunia “universal abadi” yang tidak
berubah.
Apa yang nampak
hanyalah refleksi atau bayangan dari konsep-konsep yang ada dalam dunia
“universal abadi,” maka selalu berubah. Pandangan ini dimulai dari perenungan
akan nilai-nilai dari kenampakan yang ada di dunia ini. Plato menyimpulkan
bahwa ada nilai dibalik kenampakkan itu, maka tentu yang memberi nilai jauh
lebih penting dari pada kenampakkan itu sendiri. Dan ternyata yang memberi
nilai atas kenampakkan itu adalah sesuatu yang metafisik, yang tidak nampak,
tetapi terus eksis, yaitu ide-ide.[2]
Pada abad 19
pandangan ini kembali mendapat tempat dalam percaturan pemikiran. Salah satu
tokoh yang sangat berpengaruh adalah Hegel. Hegel mengatakan bahwa realitas
yang sesungguhnya adalah Jiwa. Jiwa itulah inti dari keberadaan dunia ini. Jiwa
mengambil bentuk objektif tertentu sehingga dapat di inderai dengan perantaraan
dialektika. Sejarah, alam, pikiran manusia ini adalah refleksi dari Jiwa. Ini
berarti Hegel berada pada posisi Idealisme Subjektif/absolut. Disamping
idealisme absolut terdapat idealisme objektif. Idealisme objektif menganggap
bahwa realitas yang sesungguhnya adalah ide-ide atau gagasan-gagasan yang ada
dalam pikiran manusia.
Pikiran manusia
menjadi penentu sebuah kebenaran. Segala sesuatu yang dapat di dinderai ini
pada dasarnya hanyalah persepsi atau sensasi fisik saja, karena indera tidak
mampu secara lengkap mampu memahami seluruh realitas.
Jadi secara umum
idealisme adalah pandangan yang menganggap hal yang terpenting adalah dunia
ide-ide, sebab realitas yang sesungguhnya adalah dunia ide-ide tersebut.
Ide-ide tersebut bisa berupa pikiran-pikiran manusia rasional, bisa juga berupa
gagasan-gagasan kesempurnaan.
Pada awalnya gereja
abad 19 menyambut dengan gembira konsep idealisme ini, karena bagi mereka
konsep ini memberikan jawaban rasional atas kritikan materialisme dan
sekulerisme. Cara untuk bisa mengetahui kebenaran ini menurut filsuf idealisme
adalah intuisi, pernyataan atau wahyu, dan rasio. Hal ini berarti menunjukkan
bahwa kritikan beberapa tokoh materialisme yang mengatakan bahwa idealisme pada
hakikatnya mengorbankan rasio, atau tidak masuk akal, tidak berdasar.
a. Konsep Filsafat Umum Idealisme
·
Metafisika
Metafisika adalah
cabang filsafat yang mempelajari atau membahas hakikat realitas (segala sesuatu
yang ada) secara menyeluruh (komprehensif).
·
Hakikat Realistis
Para filsuf idealis mengklaim bahwa hakikat realitas bersifat spiritual atau
ideal. Bagi penganut idealisme, realitas diturunkan dari suatu substansi
fundamental, adapun substansi fundamental itu sifatnya nonmaterial, yaitu
pikiran/spirit/roh. Benda-benda yang bersifat material yang tampak nyata,
sesungguhnya diturunkan dari pikiran/jiwa/roh.
·
Hakikat Manusia
Menurut para filsuf
idealisme bahwa manusia hakikatnya bersifat spiritual/kejiwaan. Menurut Plato,
setiap manusia memiliki tiga bagian jiwa, yaitu nous (akal
fikiran) yang merupakan bagian rasional, thumos (semangat atau
keberanian), dan epithumia (keinginan, kebutuhan atau nafsu).
Dar ketiga bagian jiwa tersebut akan muncul salah satunya yang dominan. Jadi,
hakikat manusia bukanlah badannya, melainkan jwa/spiritnya, manusia adalah
makhluk berfikir, mampu memilih atau makhluk yang memiliki kebebasan, hidup
dengan suatu aturan moral yang jelas dan bertujuan.
·
Epistemologi
Epistemologi adalah
cabang filsafat yang mempelajari atau membahas tentang hakikat pengetahuan.
Menurut filsuf idealisme, proses mengetahui terjadi dalam pikiran, manusia
memperoleh pengetahuan melalui berfikir dan intuisi (gerak hati). Beberapa
filsuf percaya bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat kembali (semua
pengetahuan adalah susatu yang diingat kembali).
·
Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas tentang
hakikat nilai. Para filsuf idealisme sepakat bahwa nilai-nilai bersifat abadi.
Menurut penganut Idealime Theistik nilai-nilai abadi berada
pada Tuhan. Penganut Idealisme Pantheistik mengidentikan Tuhan
dengan alam.[3]
b.
Implikasi Aliran
Idealisme dalam dunia Pendidikan
·
Tujuan Pendidikan
Menurut para filsuf idealisme, pendidikan bertujuan untuk membantu
perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. Mengingat bakat
manusia berbeda-beda maka pendidikan yang diberikan kepada setiap orang harus
sesuai dengan bakatnya masing-masing.
Sejak idealisme sebagai paham filsafat pendidikan menjadi keyakinan bahwa
realitas adalah pribadi, maka mulai saat itu dipahami tentang perlunya
pengajaran secara individual. Pola pendidikan yang diajarkan fisafat idealisme
berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak, atau
materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan berpusat pada idealisme.
Maka, tujuan pendidikan menurut paham idealisme terbagai atas tiga hal, tujuan
untuk individual, tujuan untuk masyarakat, dan campuran antara keduanya.
Pendidikan idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak didik
bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian
yang harmonis dan penuh warna, hidup bahagia, mampu menahan berbagai tekanan
hidup, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup
lebih baik.
Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya
persaudaraan sesama manusia. Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu
pendekatan seseorang kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak
pribadinya, namun hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai
dalam hubungan kemanusiaan yang saling penuh pengertian dan rasa saling
menyayangi.
Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan antara tujuan
individual dengan sosial sekaligus, yang juga terekspresikan dalam kehidupan
yang berkaitan dengan Tuhan.
·
Kurikulum Pendidikan
Kurikulum pendidikan idealisme berisikan pendidikan liberal dan pendidikan
vokasional/praktis. Pendidikan liberal dimaksudkan untuk pengembangan
kemampuan-kemampuan rasional dan moral. Pendidikan vokasional dimaksudkan untuk
pengembangan kemampuan suatu kehidupan/pekerjaan.
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran idealisme harus
lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman haruslah lebih banyak
daripada pengajaran yang textbook. Agar supaya pengetahuan dan pengalamannya
senantiasa aktual.
·
Metode Pendidikan
Tidak cukup mengajar siswa tentang bagaimana berfikir, sangat penting bahwa
apa yang siswa pikirkan menjadi kenyataan dalam perbuatan. Metode mangajar
hendaknya mendorong siswa untuk memperluas cakrawala, mendorong berfikir
reflektif, mendorong pilihan-pilihan morak pribadi, memberikan
keterampilan-keterampilan berfikir logis, memberikan kesempatan menggunakan
pengetahuan untuk masalah-masalah moral dan sosia, miningkatkan minat terhadap
isi mata pelajaran, dan mendorong siswa untuk menerima nilai-nilai peradaban
manusia.
·
Peran Guru
Para filsuf idealisme mempunyai harapan yang tinggi dari para guru.
Keunggulan harus ada pada guru, baik secara moral maupun intelektual. Tidak ada
satu unsur pun yang lebih penting di dalam sistem sekolah selain guru. Guru
hendaknya “bekerjasama dengan alam dalam proses menggabungkan manusia,
bertanggung jawab menciptakan lingkungan pendidikan bagi para siswa.
Para murid yang menikmati pendidikan di masa aliran idealisme sedang
gencar-gencarnya diajarkan, memperoleh pendidikan dengan mendapatkan
pendekatan (approach) secara khusus. Sebab, pendekatan
dipandang sebagai cara yang sangat penting.
Giovanni Gentile pernah mengemukakan, “Para guru tidak boleh berhenti hanya
di tengah pengkelasan murid, atau tidak mengawasi satu persatu muridnya atau
tingkah lakunya. Seorang guru mesti masuk ke dalam pemikiran terdalam dari anak
didik, sehingga kalau perlu ia berkumpul hidup bersama para anak didik. Guru
jangan hanya membaca beberapa kali spontanitas anak yang muncul atau sekadar
ledakan kecil yang tidak banyak bermakna.
Model pemikiran filsafat idealisme yang menganggap anak didik merupakan
makhluk spiritual dan guru yang juga menganut paham idealism menjadikan sistem
pengajaran di kelas biasanya berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu
kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya
spiritual. Guru dalam sistem pengajaran yang menganut aliran idealisme
berfungsi sebagai:
1.
Guru adalah
personifikasi dari kenyataan si anak didik
2.
Guru harus seorang
spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan dari siswa
3.
Guru haruslah
menguasai teknik mengajar secara baik
4.
Guru haruslah
menjadi pribadi terbaik, sehingga disegani oleh para murid
5.
Guru menjadi teman
dari para muridnya
6.
Guru harus menjadi
pribadi yang mampu membangkitkan gairah murid untuk belajar
7.
Guru harus bisa
menjadi idola para siswa
8.
Guru harus rajib beribadah, sehingga menjadi
insan kamil yang bisa menjadi teladan para siswanya
9.
Guru harus menjadi
pribadi yang komunikatif
10.
Guru harus mampu
mengapresiasi terhadap subjek yang menjadi bahan ajar yang diajarkannya
11.
Tidak hanya murid,
guru pun harus ikut belajar sebagaimana para siswa belajar
12.
Guru harus merasa
bahagia jika anak muridnya berhasil
13.
Guru haruslah
bersikap dmokratis dan mengembangkan demokrasi
14.
Guru harus mampu
belajar, bagaimana pun keadaannya.
·
Peran Siswa
Siswa berperan bebas mengembangkan kepribadian dan bakat-bakatnya”. (Edward
J.Power,1982). Bagi aliran idealisme, anak didik merupakan seorang pribadi
tersendiri, sebagai makhluk spiritual. Mereka yang menganut paham idealisme
senantiasa memperlihatkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan ekspresi dari
keyakinannya, sebagai pusat utama pengalaman pribadinya sebagai makhluk
spiritual.[4]
B.
Aliran
Filsafat Pendidikan Materialisme
Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor pandangan materialisme klasik,
yang disebut juga “atomisme”.
Demokritos besrta para pengikutnya beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri
dari bagian-bagian kecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (yang disebut atom).
Atom-atom merupakan bagian dari yang begitu kecil sehingga mata kita tidak
dapat melihatnya. Atom-atom itu bergerak, seehingga dengan demikian membentuk
realitas pada pancaindera kita.
Ludwig Feuerbach (1804-1872) mencanangkan suatu meta-fisika materialistis,
suatu etika yang humanistis, dan suatu epistemology yang menjungjung tinggi
pengenalan inderawi. Oleh karena itu, ia ingin mengganti idealisme Hegel (guru
Feuerbach) dengan materialisme. Jadi, menurut Feuerbach, yang ada hanyalah
materi, tidak mengenal alam spiritual.
Kepercayaan terhadap Tuhan hanyalah merupakan suatu proyeksi dari kegagalan
atau ketidakpuasan manusia mencapai cita-cita kebahagiaan dalam hidupnya.
Dengan kegagalan tersebut manusia memikirkan suatu wujud di luar yang
dikhayalkan memiliki kesempurnaan, yang merupakan sumber kebahagiaan manusia,
suatu wujud yang bahagia secara absolute. Oleh karena iu, Tuhan hanyalah
merupakan hasil khayalan manusia. Tuhan diciptakan oleh manusia itu sendiri,
secara maya, padahal wujudnya tidak ada.
Cabang materialisme yang banyak diperhatikan orang dewasa ini, dijadikan
sebagai landasan berpikir adalah “Positivisme”. Menurut positivisme, kalau
sesuatu itu memang ada, maka adanya itu adalah jumlahnya. Aguste Comte sebagai
pelopor positivisme berpandangan bahwa “The
highest form of knowledge is simple description presumably of sensory phenomena”(Runes,
1963:234). Comte membatasi pengetahuan pada bidang gejala-gejala sala
(fenomena). Menurut Comte, terdapat tiga perkembangan berpkir yang dialami
manusia, yaitu:
1. Tingkatkan teologis
(pola berpikir manusia dikuasai oleh tahayul dan prasangka)
2. Tingkatkan metafisik
(pola berpikir abstrak)
3. Tingkatkan positif
(pola berpikir yang mendasarkan pada sains)
Zaman positif (Harun Hadiwijono, 1980)
adalah zaman dimana orang tahu, bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai
pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologi maupun metafisik. Ia tidak
lagi melacak awal dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta tapi berusaha
menemukan hukum-hukum kesamaan dan aturan yang terdapat pada fakta-fakta yang
telah dikenal atau disajikan kepadanya.
Jadi, dikatakan positivisme, Karena
mereka beranggapan bahwa yang dapat kita pelajari hanyalah berdasarkan
fakta-fakt, berdasarkan data-data yang nyata, yaitu yang mereka namakan positif.
Thomas Hobbes sebagai pengikut
empirisme materialistis berpendapat bahwa pengalaman merupakan awal dari segala
pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan
dikukuhkan oleh pengalaman. Hanya pengalamanlah yang memberi kepastian.
Pengetahuan melalui akal hanya memiliki fungsi mekanis semata, sebab pengenalan
dengan akal mewujudkan suatu proses penjumlahan dan pengurangan.
Tokoh-tokoh filsafat materialisme
adalah:
1. Anaximenes (585-528
SM)
2. Anaximandros
(610-545 SM)
3. Thales (625-545 SM)
4. Demokritos (460-360
SM)
5. Thomas Hobbes
(1588-1679)
6. Lamettrie
(1709-1715)
7. Feuerbach
(1804-1872)
8. H. Spencer
(1820-1903)
a.
Konsep Dasar Filsafat Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan
rohani, bukan spiritual, atau supranatural. Filsafat materialisme memandang
bahwa materi lebih dahulu ada sedangkan ide atau pikiran timbul setelah melihat
materi. Dengan kata lain materialisme mengakui bahwa materi menentukan ide,
bukan ide menentukan materi.
b.
Ciri-ciri filsafat
materialisme
a.
Segala yang ada
(wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi
b.
Tidak meyakini
adanya alam ghaib
c.
Menjadikan
panca-indera sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu
d.
Memposisikan ilmu
sebagai pengganti agama dalam peletakkan hukum
e.
Menjadikan
kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlaq
c.
Variasi aliran filsafat materialisme
Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan
materialisme metafisik.
1.
Filsafat
Materialisme Dialektika
Materialisme dialektika adalah
materialisme yang memandang segala sesuatu selalu berkembang sesuai dengan
hukum-hukum dialektika: hukum saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang
berlaku secara objektif didalam dunia semesta. Pikiran-pikiran materialisme
dialektik ini pun dapat kita jumpai dalam kehidupan misalnya, “bumi berputar
terus, ada siang ada malam”, “habis gelap timbullah terang”, “patah tumbuh
hilang berganti” dsb. Semua pikiran ini menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan
kita senantiasa berkembang.
2.
Filsafat
Materialisme Metafisik
Materialisme metafisik, yang memandang
dunia secara sepotong-sepotong atau dikotak-kotak, tidak menyeluruh dan statis.
Pikiran-pikiran materialisme metafisik ini misalnya: “sekali maling tetap
maling”, memandang orang sudah ditakdirkan, tidak bisa berubah.
d.
Implikasi Aliran Filsafat Materialisme untuk Pendidikan
Menurut Power (1982), implikasi aliran filsafat pendidikan materialisme,
sebagai berikut:
1. Temanya yaitu
manusia yang baik dan efisien dihasilkan dengan proses pendidikan terkontrol
secara ilmiah dan seksama.
2. Tujuan pendidikan
merupakan perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya,
untuk tanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks.
3. Isi kurikulum
pendidikan yang mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya (handal), dan
diorganisasi, selalu berhubungan dengan sasaran perilaku.
4. Metode, semua
pelajaran dihasilkan dengan kondisionisasi (SR conditioning), operant
condisioning, reinforcement, pelajaran berprogram dan kompetisi.
5. Kedudukan siswa
tidak ada kebebasan, perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar, pelajaran
sudah dirancang, siswa dipersiapkan untuk hidup, mereka dituntut untuk belajar.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang
berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide. Idealisme diambil dari kata ide
yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Idealisme dapat diartikan sebagai
suatu paham atau aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya
dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Menurut paham ini, objek-objek
fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit. Ada pendapat lain yang mengatakan, idealisme berasal dari
bahasa latin idea, yaitu gagasan, atau ide. Sesuai asal katanya menekankan gagasan, ide, isi pikiran,
dan buah mental.
Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor pandangan materialisme klasik,
yang disebut juga “atomisme”.
Demokritos besrta para pengikutnya beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri
dari bagian-bagian kecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (yang disebut atom).
Atom-atom merupakan bagian dari yang begitu kecil sehingga mata kita tidak
dapat melihatnya. Atom-atom itu bergerak, seehingga dengan demikian membentuk
realitas pada pancaindera kita.
B.
Kritik
dan Saran
Demikian yang
dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah
ini , tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karna terbatasnya
Pengetahuan dan kurangnya rujukan dan referensi , penulis berharap kapada para
pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
·
H.B.
Hamdani Ali, M.A.M.Ed.1986. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kota
Kembang
·
http://anjarthebigreds.blogspot.com/2011/12/filsafat-pendidikan-materialisme.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar